Sabtu, 03 September 2016

UMUR MANUSIA

assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
innalhamdalillaah, nahmaduhuu
wa nasta'iinuhuu wa nastaghfiruhu
wa na'uudzubillaahi min syuruuri 'anfusinaa
wa min syayyi-aati a'maalinaa
man yahdillaahu falaa mudhillalahu
wa man yudhlilhu falaa haadiyalahu
asyhadu anlaa ilaaha illallah  wahdahu laa syariikalaahu wa asyhadu annaa muhammadan 'abduhuu wa rasuuluhuu laa nabiyya ba'dahu

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah Subhana Wata Allah 
Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadiratan allah swt, pada kesempatan yang berbahagia ini kita kembali bisa menjalankan shalat subuh berjamaah dan  menghadiri salah satu diantara majelis ilmu. Kita berharap semoga Allah Subhana Wata Alla, berkenan untuk melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat, sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap Allah swt,  amin ya rabal alamin.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan baginda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengikutnya hingga hari kemudian.

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah Subhana Wata Allah
Dalam bahasa Jawa seperti yang kita ketahui angka jawa dimulai dengan siji, loro, telu dst sampai sepuluh, angka 11 tidak disebut sebagai 'sepuluh siji', 12 bukan 'sepuluh loro', 13 bukan 'sepuluh telu' dan seterusnya hingga angka 19 yang tidak disebut sebagai 'sepuluh songo'. Namun, angka 11 disebut sebagai 'sewelas', 12 disebut sebagai 'rolas' dan seterusnya hingga 19 yang disebut sebagai 'songolas'. Mengapa sepuluhan diganti dengan welasan? Karena pada usia 11 tahun hingga 19 tahun adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (belas kasih) pada jiwa seseorang, terutama terhadap lawan jenis. Itulah usia di mana seseorang memasuki masa akil baligh, masa remaja. Pada angka 21 tidak disebut sebagai 'rongpuluh siji', 22 tidak disebut rongpuluh loro, dst, melainkan 21 disebut selikur, 22 disebut rolikur, dan seterusnya hingga 29 yang disebut songo likur, kecuali angka 25 yang disebut sebagai selawe. Likur merupakan kependekan dari LIngguh KURsi, artinya duduk di kursi. Mengapa disebut demikian? pada usia 21 hingga 29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “tempat duduknya”, baik itu berupa pekerjaannya atau profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, dll.  Angka 25 memiliki sebutan khusus, bilangan 25 tidak disebut sebagai limang likur, melainkan selawe. Selawe merupakan singkatan dari SEneng-senenge LAnang lan WEdok, itulah puncak asmaranya seorang laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh adanya pernikahan. Maka pada usia tersebutlah (25) pada umumnya seorang laki-laki berumah tangga. Setelah itu 30 (telong puluh), 40 (petang puluh) dan seterusnya. Pada bilangan 50. Mestinya, angka ini disebut sebagai limang puluh, namun sebutan populernya tidaklah demikian, angka 50 lebih sering disebut dengan seket. SEKET merupakan kependekan dari kalimat SEneng KEthonan, artinya suka memakai kethu / alias tutup kepala/topi/kopiah dan sebagainya. Hal ini menandakan usia seseorang semakin lanjut, dan tutup kepala merupakan lambang dari semua itu. Tutup kepala bisa juga berupa kopiah yang melambangkan orang yang senang beribadah. Pada usia 50 sudah seharusnya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya. Setelah sejak umur likuran bekerja keras mencari kekayaan untuk kehidupan dunia, sekitar 25 tahun kemudian, yaitu pada usia 50 perbanyaklah ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat.  Untuk  angka  60. Angka ini tidak disebut  enem puluh, tapi lebih sering diseut dengan sewidak atau suwidak. Sewidak merupakan kependekan dari 'SEjatine WIs wayahe tinDAK'. Maknanya, sesungguhnya pada usia tersebut sudah saat seseorang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan dunia fana ini. Maka kalau usia kita sudah mencapai 60, lebih berhati-hatilah dan tentu saja semakin banyaklah bersyukur, karena usia selebihnya adalah bonus dari Yang Maha Kuasa.
Sekarang bagaimana umur menurut Islam, Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah.    Al-Qur'an yang telah menyebutkan umur 40 tahun dengan tegas, dan itu harus menjadi perhatian kita. Sehingga, saat memasuki usia ini para ulama salaf mencapai kebaikan amal mereka dan menjadikannya sebagai hari-hari terbaik dalam hidupnya.

Allah Ta'ala berfirman,  


"Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ayat ini mengisyaratkan, bahwa saat sudah menginjak usia 40 tahun hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah juga kepada orang tuanya. Ia memohon kepada Allah, agar diberi hidayah, taufik, dibantu, dan dikuatkan agar bisa menegakkan kesyukuran ini. Karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak dan izin Allah, sehingga ia meminta hal itu kepada Allah. Ini sebagaimana doa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Mu'adz bin Jabal, "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, Janganlah engkau tinggalkan untuk membaca sesudah shalat doa ini:

ALLAHUMMAA ’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK ; "Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir, beryukur, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu." (HR. Ahmad, Abu Dawud)

Karena sesungguhnya kita sangat butuh kepada pertolongan Allah dalam menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan sabar atas ketetapan-ketetapan takdir Allah. Sebenarnya bersyukur itu, seharusnya sepanjang umur. Kenapa dikhususkan pada umur 40 tahun ini, karena pada saat usia ini seseorang benar-benar harus sudah mengetahui segala nikmat Allah yang ada padanya dan pada orang tuanya, lalu ia mensyukurinya.

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, "Allah Ta'ala menyebutkan orang yang sudah mencapai umur 40 tahun, maka sesungguhnya telah tiba baginya untuk mengetahui nikmat Allah Ta'ala yang ada padanya dan kepada kedua orang tuanya, kemudian mensyukurinya."

Saat seseorang berumur 40 tahun, maka ia memiliki tanggungjawab baik di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat yang lebih besar. Anak-anak mereka memerlukan biaya yang lebih banyak misalnya  untuk pendidikan dan lainnya. Sementara orang tuanya, pastinya sudah renta dan sangat memerlukan bantuan dari anak-anaknya. Di sinilah sering seseorang melupakan orang tuanya karena konsentrasinya yang lebih terhadap keluarga dan anak-anaknya. Padahal seharusnya dengan bertambahnya umur semakin membuat ia sadar akan jasa-jasa orang tuanya kepada dirinya. Sehingga disebutkan dalam hadits, "Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya, salah seorang atau kedua-duanya, tapi tidak bisa masuk surga (dengan itu)." " (HR. Ahmad dan lainnya)

Sesudah seorang muslim diperintah berbuat baik kepada orang yang di atasnya dan mengerjakan amal shalih untuk dirinya, maka janganlah ia lupa terhadap anak keturunanya. Ia juga wajib memperhatikan pendidikan dan pengarahan kepada mereka, agar mereka (anak keturunanya tersebut)  menjadi orang yang taat kepada Allah Ta'ala. Karena mereka adalah amanat yang harus diarahkan untuk taat kepada Tuhan-Nya.

Dan sesungguhnya di antara balasan dari amal shalih seorang muslim adalah diperbaiki keturunan mereka. Baiknya orang tua akan berefek kepada perbaikan anak. Ini harusnya menjadi pelajaran, dalam melakukan pendidikan kepada anak kita, seharuslah orang tua terlebih dahulu atau memulai dengan menshalihkan diri mereka dengan ilmu dan amal. Sesungguhnya baiknya orang tua dengan ilmu dan amal termasuk salah satu yang menjadikan penyebab baiknya anak-anak mereka. Selain itu, kita juga diwajibkan berdoa kepada Allah agar anak kita menjadi anak yang sholeh dan doa di dalam QS Al-Ahqaf ayat 15, bisa kita gunakan untuk memohon Allah agar anak kita menjadi anak yang sholeh sholehan.

Usia 40 tahun haruslah juga menjadi titik tolak seorang muslim untuk pembaharuan taubat, penyesalan atas dosa-dosa dan kufur nikmat selama hidupnya. Karena pada usia ini seseorang benar-benar telah merasakan banyaknya nikmat dan itu tidak sebanding dengan rasa syukurnya terhadap Allah. Maka pengakuan dosa pasti akan mengalir dari orang yang mau merenungkan masa lampaunya, sehingga dari itu, lahirlah penyesalan, tumbuhlah istighfar dan taubat kepada Allah.  

Oleh sebab itu,disebutkan dalam doa di atas, inni tubtu ilaika wa inni minal muslimiin, "Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Pada usia 40 tahuan dan seterusnya  seorang muslim seharusnya sudah secara istikomah menjalankan semua ibadah-ibadah yang wajib yaitu sholat, puasa, zakat dan haji kalau mampu, dan dia juga seharusnya sudah mulai memperbanyak ibadah sunah, misalnya sholat2 sunah, puasa2 sunah, memperbanyak ifaq, memperbanyak zikir dan ibadah sunah yang lainnya, pada usia 40 tahun keatas  seorang  seharusnya juga sudah mulai meninggalkan hal yang subhat maupun yang mahruh,  kalau kita lihat disekiling kita masih banyak orang yang berusia 40 tahun keatas masih suka beraktifitas yang mahruh, misalnya begadang sampai pagi, tanpa tujuan yang jelas, atau catur sampai pagi atau  main game pokemon go atau kegiatan  subhat maupun yang mahruh lainnya. Dan juga termasuk ada baiknya mulai meninggalkan makanan minuman yang subhat maupun yang mahruh, misalnya kodok, bekicot, rokok dan lainnya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Dan di dalamnya (maksudnya QS. Al-Ahqaf: 15)  terdapat petunjuk bagi orang yang sudah berusia 40 tahun agar memperbaharui taubat dan inabah (kembali kepada Allah dengan bertobat) serta bertekad kuat atasnya." Dia harus terus meninggakatkannya yaitu taubat dan inabah ini, saat usianya menginjak  40 tahun sampai ajal menjemputnya. Karena Tidak ada seorang pun yang tahu kapan ajalnya akan menjemput. Juga tidak ada yang tahu di belahan bumi mana dia akan mati.

Hanya saja, ada beberapa tanda yang kadang menjadi petunjuk bahwa ajalnya kian dekat, seperti: menderita sakit parah yang umumnya tidak mungkin lagi disembuhkan, sudah berusia lanjut, tertimpa musibah yang mematikan, atau hal-hal lain yang umumnya bisa menjadi sebab kematian.  Manakala seseorang merasa ajalnya semakin dekat, ketika sakitnya bertambah parah atau kondisi semisal itu, dia wajib memperbaiki keadaan ukhrawinya dengan taubat kepada Allah, dan mengembalikan hak setiap orang yang dia zalimi serta memohon maaf dari mereka. Ingat ketika Rosullullah akan wafat, dimana di dahului dengan sakit selama dua minggu, pada saat itu Rosullullah bertanya kepada sahabatnya siapa yang pernah beliau sakiti, kemudian Akasyah bilang pernah beliau sakiti, numun sebernarnya tujuan Akasyah adalah ingin memeluk nabi sebelum Rosullulah wafat. Maka ada juga cerita, ada seorang beriman ketika dia sudah tua renta, sakit-sakitan, maka dia merasa hidupnya tidak lama lagi, kemudian setiap hari dia minta diantar  anaknya meskipun dengan memakai kursi roda ( jadi orang tua ini duduk dikursi roda dan didorong oleh anaknya dari belakang) keliling kampung menemuai orang-orang untuk minta maaf. Dan itu dilakukan tiap pagi hingga orang tadi meninggal dunia. Namun ada juga seseorang ketika dia sudah tua renta, sakit-sakitan, tapi dia tidak merasa hidupnya tidak lama lagi, maka terkadang timbul keinginan yang macam-macam, ada yang sudah sakit tak berdaya, sudah tidak bisa apa-apa lagi, giginya juga sudah ompong, tapi masih minta dibelikan sate dan gulenya pak toha, begitu dibelikan, e.. Cuma dijilat saja... anak bilang ini sudah pak... ya sudah jawab bapaknya.. terus ini satenya diapakan jawab anaknya.. ya wis kamu makan saja... elah jawab anaknya.

Seiring makin dekatnya kematian dan kuatnya sakaratul maut, seorang mukmin akan menghadapinya dengan jiwa gembira dan teguh. Insyaallah dia akan menghadapi (kematian dan sakaratul maut) dengan mudah. Karena dia diliputi rindu untuk menyongsong sesuatu yang akan didapatinya setelah kematian, yaitu perjumpaan dengan Allah.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga Allah memilih kita menjadi hamba-Nya yang dikaruniakan husnul khatimah dan Allah mengutus malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada kita saat ajal menjemput kita. Sehingga kita senang bertemu dengan Allah dan mendapatkan kabaikan yang telah Allah janjikan.


Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahiwabarokatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar