Rabu, 20 September 2017

Wanita di Surga

assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
innalhamdalillaah, nahmaduhuu
wa nasta'iinuhuu wa nastaghfiruhu
wa na'uudzubillaahi min syuruuri 'anfusinaa
wa min syayyi-aati a'maalinaa
man yahdillaahu falaa mudhillalahu
wa man yudhlilhu falaa haadiyalahu
asyhadu anlaa ilaaha illallah  wahdahu laa syariikalaahu wa asyhadu annaa muhammadan 'abduhuu wa rasuuluhuu laa nabiyya ba'dahu

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah
Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadiratan allah swt, pada kesempatan yang berbahagia ini kita kembali bisa menjalankan shalat subuh berjamaah dan  menghadiri salah satu diantara majelis ilmu. Kita berharap semoga Allah Subhana Wata Alla, berkenan untuk melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat, sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap Allah swt,  amin ya rabal alamin.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan baginda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengikutnya hingga hari kemudian

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah Ta’ala, ada ungkapan dalam bahasa jawa yang berbunyi : “Suwargo Nunut Neroko Katut,”, atau lebih jelasnya biasanya berbunyi “bojo iku (wong wadon iku) suwargo nunut neroko katut’ artinya (suami masuk surga istri ikut, suami masuk neraka istri juga terbawa), Seakan-akan bagi seorang istri, ketaatan kepada suami adalah segala-galanya. Dan surganya wanita sangat tergantung oleh pasangannya. Sebetulnya ungkapan itu bukan untuk menggambarkan keadaan wanita di surga, tapi sebetulnya lebih menggambarkan keadaan wanita dulu terutama di jawa, yang posisinya lebih lemah dibanding laki-laki, dan lebih menggambarkan kedaan di dunia, misalnya kalau si suami ini naik pangkat menjadi pak RT, atau pak , RW atau pak Lurah dan seterusnya maka sis istri akan juga di sebut bu RT, atau bu RW atau  bu lurah danseterusnya, pokoknya jabatan suami melekat pada si istri, tetepi begitu si suami ini mendapat kesusahan misalnya bangkrut, menjadi atau narapidana atau sakit yang parah, maka si istri ikut juga menjadi sengsara... tapi itu dulu kalau sekrang mungkin begitu suami menjadi sengsara atau bangkrut atau menjdi narapida dan laninya maka si istri biasanya minta cerai. Untuk cari suami yang baru.

Kemudian bagimana Keadaan Wanita di Surga menurut islam

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah Ta’ala, banyak ayat di dalam Al quran yang menunjukkan bahwa kenikmatan Surga bukan hanya untuk orang-orang beriman yang laki-laki saja. Akan tetapi, para wanita beriman pun akan dimasukkan ke dalam Surga dan diberikan kenikmatan di dalamnya.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mengiming-imingi kaum laki-laki dengan menyebutkan bidadari dengan segala kecantikan dan keindahannya. Seperti dalam al quran  surat  as-saffat ayat 48 yang berbunyi
Description: 37:48
“ Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,”

Lalu apakah yang didapatkan oleh wanita?”


Mengapa Wanita Tidak Diiming-imingi Dengan Suami Di Surga?
Kenapa untuk wanita, Allah tidak mengiming-imingi mereka dengan laki-laki di Surga? Pertanyaan ini bisa dijawab sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“lā yusʾalu ʿammā yafʿalu wa-hum yusʾalūn”
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiyaa’: 23).

Akan tetapi, tidak ada masalah jika kita berusaha mencari hikmah dan mengambil faedahnya. Dan diantara hikmahnya adalah sebagai berikut:

Pertama, sesungguhnya termasuk tabiat wanita adalah sifat malu. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala tidak mengiming-imingi mereka dengan sesuatu yang mereka merasa malu terhadapnya.

Kedua, sesungguhnya kerinduan laki-laki terhadap wanita tidaklah sama dengan kerinduan wanita terhadap laki-laki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah aku tinggalkan sebuah fitnah (cobaan) setelahku yang lebih berbahaya terhadap kaum laki-laki melebihi fitnahnya kaum wanita.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4706).

Kerinduan terbesar laki-laki adalah kepada wanita. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menyebutkan ada isteri-isteri di Surga dengan segala keindahannya agar mereka mau mencari di sana. Allah Ta’ala berfirman:

... wa-lahum fīhā ʾazwājun muṭahharatun wa-hum fīhā khālidūn..
“Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci…” (QS. Al-Baqarah: 25)

Yakni suci dari segala macam aib dan kekurangan. Mereka disifati dengan suci akhlaqnya, suci tubuhnya (tidak ada lagi haidh, nifas, air ludah, atau bau yang tidak sedap), suci lisannya dan sangat sopan tutur katanya, suci pandangannya (menjaga pandangannya dan hanya melihat kepada suaminya saja), serta sempurna kecantikannya. (Diringkas dari Tafsiir al-Kariim ar-Rahmaan, surat al-Baqarah: 25).

Bahkan Allah juga menyediakan bidadari-bidadari yang cantik di sana, yang sama sekali belum pernah disentuh oleh jin dan manusia.

Adapun wanita, maka kerinduan mereka adalah kepada perhiasan yang berwujud pakaian dan perhiasan. Kerinduan mereka kepada perhiasan mengalahkan kerinduannya kepada laki-laki.

Ketiga, Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyebutkan para istri untuk para suami dikarenakan suamilah yang mencari dan menginginkan hal itu, (bukan sebaliknya).” (Fatawa Al-Mar’ah, hal. 219).

Oleh karena itulah, dalam masalah melamar seorang gadis, apabila gadis itu ditanya kemudian diam saja, maka diamnya itu adalah jawaban setuju. Hal ini karena wanita itu memiliki tabiat berupa sifat malu.

Sesungguhnya bagaimana Keadaan Wanita di Surga? (Istri Yang Sholih Akan Masuk Surga Bersama Suaminya)
Apabila seorang mukmin memiliki istri yang sholihah, maka istrinya akan masuk ke Surga bersamanya. Dan wanita itu akan tetap menjadi istrinya di Surga. Allah Ta’ala berfirman:
jannātu ʿadnin yadkhulūnahā wa-man ṣalaḥa min ʾābāʾihim wa-ʾazwājihim wa-dhurriyyātihim...
“(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya…” (QS. Ar-Ra’d: 23).

Demikianlah orang-orang mukmin hidup di Surga bersama dengan pasangannya. Dan seluruh penduduk Surga akan hidup bersama suami atau istri mereka, dan tidak ada satu pun yang membujang (tidak menikah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan di dalam Surga tidak ada orang yang membujang (tidak menikah).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 5062).

Jika seorang wanita belum menikah di dunia dan dia adalah calon penghuni Surga, maka Allah Ta’ala akan menikahkannya dengan seorang mukmin di Surga yang bisa menyenangkannya. Demikian pula jika seorang wanita diceraikan oleh suaminya di dunia, dan wanita ini adalah calon penghuni Surga, maka Allah Ta’ala akan menjodohkannya dengan laki-laki Surga yang dikendaki-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata bahwa jika seorang wanita belum menikah di dunia, maka sesungguhnya Allah Ta’ala akan menikahkannya dengan suami yang bisa menyenangkannya di Surga. Maka kenikmatan Surga tidak terbatas pada kaum laki-laki saja, namun untuk laki-laki dan perempuan. Dan diantara bentuk kenikmatan Surga adalah pernikahan.

Allah Ta’ala berfirman:
 wa-fīhā mā tashtahīhil-ʾanfusu wa-taladhdhul-ʾaʿyun, wa-ʾantum fīhā khālidūn...
“Dan di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Zukhruf: 71)

Beliau rahimahullah mengatakan, “Kita ketahui bersama bahwa perkawinan merupakan puncak dari apa yang diinginkan hati, dan itu didapatkan di Surga dengan orang yang mendapatkan pasangaanya di dunia, seperti firman Allah Ta’ala:
“rabbanā wa-ʾadkhil-hum jannāti ʿadnin-i llatī waʿadtahum wa-man ṣalaḥa min ʾābāʾihim wa-ʾazwājihim wa-dhurriyyātihim ʾinnaka ʾantal-ʿazīzul-ḥakīm”
“Wahai Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam Surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholih di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua…” (QS. Al-Mu’min: 8). (Fatawa Al-Mar’ah, hal. 219)

(Jika Suami Tidak Masuk Surga)
Jika seorang wanita termasuk penduduk Surga dan suaminya tidak masuk Surga, maka ia akan dinikahkan dengan laki-laki di Surga yang belum menikah.

Bisa juga ia dijodohkan dengan laki-laki yang sekufu’ (sebanding) dengannya, meskipun laki-laki itu sudah mempunyai istri lebih dari satu. Sebagaimana Asiyah (istri Fir’aun) dan Maryam binti ‘Imran, ibunya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, akan dinikahkan di Surga dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memang tidak ada yang pantas menjadi pendampingnya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsiir Ibnu Katsir, 4/495 pada surat at-Tahrim, Tafsiir al-Qurthubi, 18/170, dan Fathul Qodir, 4/231)

Hisyam ibn Khalid rahimahullah mengatakan, “Suami masuk Neraka, namun istrinya masuk Surga, maka istrinya akan diwariskan kepada ahli Surga sebagaimana istri Fir’aun diwarisi oleh ahli Surga.” (At-Tadzkiroh, 461 dan Faidhul Qadir, no. 7989)

(Jika Wanita Menikah Lebih Dari Satu Kali)
Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah,
jika seorang wanita sholihah ditinggal mati suaminya, kemudian ia menikah lagi, maka dia untuk suaminya yang terakhir, sebagimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Istri itu untuk suaminya yang terakhir.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, 7/70, dan dinilai shohih oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohiihah, no. 1281).

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata kepada istrinya, “Jika engkau berkeinginan menjadi istriku di Surga, maka janganlah menikah lagi setelah kematianku. Karena seorang wanita di Surga itu untuk suaminya yang terakhir di dunia. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala mengharamkan istri-istri Nabi untuk menikah lagi setelah beliau wafat, dikarenakan mereka adalah istri-istri beliau di Surga.” (As-Silsilah Ash-Shohiihah, no. 1281).

Ummu Darda’, Hujaimah binti Hayy Al-Aushabiyyah radhiyallahu ‘anha ketika dilamar oleh Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, dia menolak dan berkata, “Saya mendengar Abu Darda’ mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Istri itu untuk suaminya yang terakhir”,  maka saya tidak ingin mengganti Abu Darda’ dengan yang lain. (As-Silsilah Ash-Shohiihah, no. 1281).

Ada sebagian ulama kita yang berpendapat bahwa wanita itu untuk suaminya yang paling bagus akhlaknya, atau dia disuruh memilih salah satu diantara suaminya itu. Pendapat ini adalah pendapat yang bagus tapi tidak ada dasarnya. Sedangkan hadits (yang artinya): “Ia untuk suami yang paling bagus akhlaknya..” maka ini adalah hadits yang dho’if (lemah). (Ibnul Qayyim dalam Hadil Arwah: 158, Al-Qurthubi dalam at-Tadzkirah, tahqiq Hamid Ahmad Thahir: 460).


Demikian yang dapat kami sampaikan, Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahiwabarokatuh

Sopo Temen Bakal Tinemu

assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
 innalhamdalillaah, nahmaduhuu
wa nasta'iinuhuu wa nastaghfiruhu
wa na'uudzubillaahi min syuruuri 'anfusinaa
wa min syayyi-aati a'maalinaa
man yahdillaahu falaa mudhillalahu
wa man yudhlilhu falaa haadiyalahu
asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalaahu wa asyhadu annaa muhammadan 'abduhuu wa rasuuluhuu laa nabiyya ba'dahu
Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kenikmatan yang tak terhitung  bagi  kita  semua. Dan diantara semua kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama.
Marilah kita jaga nikmat islam dan iman ini sampai ajal menjemput
Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  beserta para keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengikutnya hingga hari kemudian.

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah
Falsafah Jawa Mengatakan. "Sopo sing temen bakal tinemu." . Yang artinya, "Siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya”.  Atau dalam ungkapan yang lebih lengkap mengatakan  : “ Sopo sing morsal bakal kasingsal (Siapa yang nakal bakal musnah), sopo sing salah bakal seleh (siapa yang salah bakal menyerah/ terbukti). sopo sing tekun bakal tekan (siapa yang tekun bakal sampai),. Sopo sing sabar bakal subur (Siapa yang sabar bakal berhasil), sopo sing tlaten bakal panen (siapa yang telaten bakal panen). Sopo sing temen bakal tinemu. (Siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya). Dalam suatu pepatah arab dikatakan : 1. Man Jadda Wa Jada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil), . 2. Man Shobaro Zafiro (Siapa yang bersabar akan beruntung), . 3. Man Saaro 'Alaa Darbi Washola (Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai)

 Kemudian kalau di dalam Al quran dikatakan :
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-‘Ankabut [29] : 69)
Di ayat lain dikatakan :

Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur
Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah,
Kata temen, dalam ungkapan sopo temen bakal tinumu, sebenarnya mengandung unsur-unsur/pengertian  yang banyak sekali , di antaranya ;  pertama : niat, kalau orang itu temen-temen atau sungguh-sungguh pasti dia mempunyai niat. Saya yakin jamaah di sini sangat faseh dengan istilah ini, ini kalau dalam pelajaran agama pasti menjadi pelajaran dasar, di dalam kitab Riyadhus Sholihinniat itu di bahas pada bagian awal jadi saya yakin jamah di sini sangat familiar dengan istilah ini, istilahnya sudah nglonthok, sudah di luar kepala, atau sudah katam. Saya yakin bapak ibu sekalian pasti sudah hapal hadist tentang niat yaitu : inna amalu bin niat :Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan”  dan untuk suatu amalan maka agar amalan itu mrmpunyai atau berharga di hadapan Allah maka harus diniatkan ikhas karena Allah, disamping sesuai dengan Alquran dan sunnah rosullulah.  Namun demikian karena manusia itu tempatnya salah dan lupa, Al Insanu Mahallul khata’ wan nissiyan, maka tidak heran meskipun sudah sering mendengar atau sudah katam tentang niat, ada saja, lupanya meskipun sedikit,... ada suatu cerita begini, rumah saya dulu (maksud saya rumah orang tua saya) waktu di jawa tengah , ini dekat dengan masjid ya kalau diukur dari masjid ini mungkin jarak antara pagarnya, antara bibir teras masjid depan dengan dengan pohon mangga depan itu, jadi nggan sampai 10 langkah, ya dekatlah, tapi dulu saya itu kalau sholah jamaah di masjid, datangnya nggak pernah sebelum adzan berkumandang atau pas adzan berkumandang pasti, biasanya pas setelah iqomah, maka kalau kemarin ada usulan untuk melonggarkan waktu iqomah saya jadi teringat waktu saya di klaten, ya mungkin seperti itulah psikologinya antara orang yang jauh dari masjid dengan orang yang dengat dengan masjid. Mungkin kayak pelajar/mahasiswa, kalau sudah punya buku ya.. sudah ayem, tenang, meskipun bukunya kadang tidak dibaca setiap saat tapi dibaca kalau pas mau ujian saja. Namun kembali ke niat tadi bukan ini yg saya maksudkan, masjid kami tadi dibangun di daerah kavlingan jadi dalam perkembangannya jamaahnya bertambah, dan terkadang keluarga baru kalau menjadi jammah di situ, ya namanya maunya fatabiqul qoirot dalam beramal, dia meyumbang sesuatu di mesjid itu, nah pada suatu saat banyak jam dinding di masjid itu ada kalau 7, jadi diruangan dengan setengah luasan ruangan masjid ini ada 7 buah jam, disetiap dinding, , ada jam digital waktu sholah , ditambah jam berdiri merknya Junghans, tingginya 2 meter, yang kalau berbunyi/berdendang terdengar dari rumah saya, bapak ibu yang dimahmati Allah, kembali pada niatan tadi, maksud saya begini kalau pemberian/atau sedekah jam didinding tadi niat ikhlas karena Allah pasti akan mendapat pahala dari Allah, dan saya yakin jamaah di sana ikhlas, namun ada unsur yang kadang kita tidak dasari sehinggga keikhasan tadi tidak 100 %, ya mungkin 99,9%, kenapa? Mungin sebagai orang yang baru disitu karena mendengar cerita orang sebelumnya menyedekahkan jam dinding, kemudian orang itu juga menyedekahkan jam dinding, ya faktornya ikut2an, makanya tidak 100 %, tapi ini mungkin masih lebih baik dari pada yang menyumbang jam dinding karena, merasa sudah lama menjadi jammah di situ, terus belihat orang baru menyumbang jam dinding, terus orang ini merasa gimana, mungkin dalam hatinya berkata : ah orang baru cuma nyumbang jam dinding merk alba saja udah gitu,  Nih aku nyumbang jam dinding merk citisen, terus lain juga gitua, nih aku nyumbang merk saiko, dan seterusya hingga jam nya tadi menjadi banyak.  Bapak ibu yang dirahmati allah sekali lagi saya yakin jamaah tadi bukan tidak ikhlas dalam menyumbang/sedekat namun mungkin keikhlasannya tidak sempurna.
Itu yang Unsur yang pertama : Unsur yang kedua dalam kata temen adalah: sabar.  Masalah sabar ini saya yakin bukan barang baru atau kata baru bagi kita semua, seperti kata niat tadi saya yakin jamaah di sini sudah paham betul apa itu sabar. Yaitu sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah.
Allah berfirman :

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk “ (QS. Al-Baqarah :45)
Dalam ayat ini kita diperintah Allah untuk bersabar, namun orang dikatakan mempunyai sifat sabar, baru kelihatan kalau orang itu mendapat ujian dari Allah, pada saat kita mendapat ujian dari Allah makan orang yang sabar ia akan ingat bahwa ini adalah ujian dari Allah kemudian dia akan  selalu pasrah/ikhlas  dengan ujian tadi. Namun kapan waktunya ujian/cobaan dari Allah ini tiba , semua orang tidak akan tahu. Bisa waktu akhil balik/ muda, tua bahkan tua bangka, tidak ada satu orang muslim pun tahu dengan pasti,  kita ingat firman allah,

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS, Al-baqarah 155)
Dan kita juga sudah faham bahwa ujian/cobaan ini bisa berasal dari mana saja Allah berfirman;
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)
Jadi sebagai seorang muslim sebaiknya jangan berleha-leha dengan keadaanya sekarang, mungkin ada yang perpikir mana mungkin saya sudah tua begini akan diuji/dicoba  oleh Allah, jamaah sekalian sekarang ini cerita atau berita atau kita bisa melihat di sekililing kita, justru pada saat orang itu sudah tua, justru pada saat ini dia mendapat cobaan/ujian dari allah baik dari istrinya, anaknya, hartanya atau lainnya. Dari semoga darai kita yang sedang mendapat cobaan diberi kesabaran dari Allah.  Karena orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah  atau orang yang diberi kebaikkan oleh Allah, jadi orang ini termasuk orang yang bauk dimata Allah, sehingga insyaallah mendapatkan pahala surga adalah orang yang diberi kesabaran. Rosullulah berkata “Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Itu tadi unsur yang Kedua, Unsur yang ketiga dalam kata temen adalah: terus-menerus, ajeg atau kontinyu atau bhs arabnya istiqamah, istiqamah dalam apa? Istiqomah dalam beramal kebaikan, Unsur yang keempat, adalah: instrospeksi, mawas diri atau bhs arabnya muhasabah, yaitu penilaian/peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dsb) diri sendiri. Unsur yang kelima adalah: fokus pada tujuan, yaitu fokus pada Allah.

Demikian yang bisa saya sampaikan, mungkin masih ada unsur-unsur lain dalam kata temen tersebut, namun mungkin suatu saat nanti akan kami sampaikan
Wabillahi taufiq wal hidayah, Assalamuaikum warah matullah hiwabarokatuh


Minggu, 16 Oktober 2016

URIP IKU URUP

assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
innalhamdalillaah, nahmaduhuu
wa nasta'iinuhuu wa nastaghfiruhu
wa na'uudzubillaahi min syuruuri 'anfusinaa
wa min syayyi-aati a'maalinaa
man yahdillaahu falaa mudhillalahu
wa man yudhlilhu falaa haadiyalahu
asyhadu anlaa ilaaha illallah  wahdahu laa syariikalaahu wa asyhadu annaa muhammadan 'abduhuu wa rasuuluhuu laa nabiyya ba'dahu

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah Subhana Wata Allah 
Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadiratan allah swt, pada kesempatan yang berbahagia ini kita kembali bisa menjalankan shalat subuh berjamaah dan  menghadiri salah satu diantara majelis ilmu. Kita harapkan semoga Allah Subhana Wata Alla, berkenan untuk melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat, sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap Allah swt,  amin ya rabal alamin.

            Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan baginda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengikutnya hingga hari kemudian.

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah Subhana Wata Allah 
Mungkin kita pernah mendengan pepetah jawa yang berbunyi : Urip Iku Urup.
Mopo niku Urip ? urip niku nggih  hidup. Nnopo niku hidup, hudup itu ya kalau manusia, masih bisa bernafas, masih bisa maka, minum bekerja, beribadah, berkembang biak dan lain-lainnya. Lha nek Urup niku nopo ? Urup niku artine menyala. Urip iku urup adalah salah satu dari sekian banyak pepatah jawa. Pepatah jawa ini merupakan salah satu mutiara nasehat yang sudah semakin pudar penerapannya di zaman ini. Terutama di saat egoisme semakin menggurita dan mendominasi kehidupan manusia.

Urip iku urup jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bermakna hidup itu semestinya membuat nyala. Nyala di sini diartikan positif. Bila diibaratkan api, maka api tersebut menerangi. Memberi manfaat bagi sekitarnya.

Kita semua sudah tahu bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Menjalin komunikasi dengan yang lain. Manusia tidak bisa mengisolir diri, meskipun memiliki materi yang berlimpah. Itulah mengapa hidup itu harus menyala. Saling tolong-menolong adalah suatu kepastian. Itulah mengapa manusia membutuhkan manusia yang lain.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

“ Khoirunnaas amfa’uhum linnaas “
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. HR. Ath-Thabarany

Seorang bijak pernah berujar, “Jangan engkau menjadi orang sukses. Tapi jadilah orang yang penuh manfaat bagi orang lain”.

Inilah salah satu tujuan hidup manusia. Seseorang harusnya memiliki keterpanggilan untuk saling menolong saudaranya bukan mementingkan ego diri masing-masing. Seseorang mestinya memiliki keterpanggilan untuk saling menolong saudaranya, memiliki jiwa dan semangat memberi manfaat kepada sesama. Kebaikan seseorang, salah satu indikatornya adalah kemanfaatannya bagi orang lain. Keterpanggilan nuraninya untuk berkontribusi menyelesaikan problem orang lain. Jadi, manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain, seperti yang diungkapkan kutipan hadits di atas.

Ada paradoks  di sini, paradoks itu artinya pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. Ada pernyataan yang menyatakan bahwa : Manusia itu menganggap kesuksesan dapat mendatangkan kebahagiaan. Dan itu memang benar, tetapi  nyatanya ketika mereka menggapai satu titik kepuasan, maka ia akan mengejar titik kepauasan yang lain di atasnya dan dia tidak akan pernah puas. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan,

“Andaikan anak Adam memiliki dua lembah berisikan harta, niscaya dia ingin lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa mengisi perut anak Adam melainkan hanya tanah. Allah akan menerima taubat hamba yang bertaubat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma.

Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita bisa berbagi. Selain merasakan kebahagiaan ketika berbagi atau membantu orang lain, Allah akan menolong melalui jalan yang tidak kita duga sebelumnya.  Dalam sebuah hadits sahih diterangkan,

“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Ruang berbagi dengan orang lain amatlah luas. Mestinya, hidup atau urip, kita selaraskan, atau kita samakan dengan tujuan penciptaan Tuhan atas manusia, yaitu  menjadi manusia yang  rahmatan lil 'alamin, menjadi rahmat bagi semesta alam. Mestinya, manusia membingkai kehidupannya dengan misi pengabdian kepada Tuhannya dengan beroriantasi manjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama, apapun profesinya.

Yang paling tinggi adalah berbagi ilmu agama. Alias mengajarkannya, terutama kepada yang membutuhkannya. Misalnya mengajarkan al-Qur’an kepada putra-putri kita dan anak-anak TPQ. Menjadi guru, misalnya tidak sekedar mengajar dan kemudian mendapat, gaji, tetapi lebih menghayati profesinya sebagai guru, menjadi pendidik sejati, memperlakukan anak didiknya dengan penuh kasih sayang, memperhatikan masa depan mereka, sehingga menjadi generasi yang berkarakter dan peduli pada kehidupan dan memperoleh derajat kemanusiaan yang sesungguhnya.

Berikutnya berbagi harta. Apalagi bagi mereka yang mendapatkan kelapangan rizki. Di antara ladang kebajikan yang tidak layak diabaikan adalah: amal jariyah, seperti wakaf untuk sarana ibadah atau pendidikan agama.

Adapun yang minim ilmu dan harta, maka ia bisa berbagi tenaganya kepada orang lain. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa seharusnya setiap persendian manusia mengeluarkan sedekah setiap harinya.  Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Berbuat adil antara dua orang adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik adalah sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah. (HR. Bukhari). Dan ternyata yang dimaksud dengan sedekah itu adalah kebaikan, utamanya kebaikan dan kemanfaatan kepada sesama

Yang sering kita lupakan adalah bahwa, bersikap menjadi manusia yang bermanfaat adalah sesungguhnya kita telah menanamkan kebaikan kepada diri kita sendiri. Sapa nandur, sapa ngundhuh, siapa menabur, dia akan menuai. Firman Allah  jelas sekali dalam hal ini,  yaitu:


 “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,... (Quran Surat Al Isra ayat 7)

Sering kita kalau pergi takjiah , ke kematian seseorang,  baik itu teman, tetangga atau bahkan keluarga, kadang ada di antara para takjiah atau para pelayat  itu yang bilang  ikut berbela sungkawa,  dan bahkan ada yang mengatakan bahwa meskipun  dia tidak ada hubungannya dengan yang mati tapi dia merasa sangat bersedih atau bahasa jawanya Masio  Dudu Sanak Dudu Kadang, yen Mati Melu Kelangan. Rasanya memang aneh, bagaimana mungkin bukan famili bukan saudara tetapi kalau orang tersebut meninggal kita akan merasakan ikut kehilangan. Secara logika orang yang tidak mempunyai pertautan darah dengan kita memang bukan saudara atau famili kita. Jadi jika orang yang bersangkutan meninggal secara logika kita tidak perlu merasa kehilangan. Tetapi kenapa si pelayat bisa berbicara seperti itu? berarti bisa jadi si mati itu mempunyai jasa bagi si pelayat, sehingga si pelayat itu bisa ngomong seperti itu dan  jika yang mengatakan seperti itu orang banyak, bisa jadi orang yang mati itu sangat berjasa pada banyak orang.

Dan rasullulah mengatakan : “Kalian akan menjadi saksi Allah di bumi,”
Ada lagi hadist Rosullulah lain yang berbunyi :

Ada riwayat dari Abul Aswad Addail, Saat itu Abul Aswad duduk didekat Umar. Rasulullah Saw bersabda, “Seseorang yang mati lalu ada tiga orang bersaksi akan kebaikannya, maka ia akan mendapatkan surga.”“Kalau cuma dua orang, bagaimana ya Rasul?” tanyaku.“Ya, meskipun cuma dua orang.” Kami tidak bertanya bila yang menjadi saksi hanya seorang.

Alangkah senangnya kita nanti jika kita meninggal banyak orag yang menyatakan, Masio  Dudu Sanak Dudu Kadang, yen Mati Melu Kelangan.

Demikian sedikit yang dapat kami sampaikan. Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahiwabarokatuh





Sabtu, 03 September 2016

HAJI

assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
innalhamdalillaah, nahmaduhuu
wa nasta'iinuhuu wa nastaghfiruhu
wa na'uudzubillaahi min syuruuri 'anfusinaa
wa min syayyi-aati a'maalinaa
man yahdillaahu falaa mudhillalahu
wa man yudhlilhu falaa haadiyalahu
asyhadu anlaa ilaaha illallah  wahdahu laa syariikalaahu wa asyhadu annaa muhammadan 'abduhuu wa rasuuluhuu laa nabiyya ba'dahu

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah
Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadiratan allah swt, pada kesempatan yang berbahagia ini kita kembali bisa menjalankan shalat subuh berjamaah dan  menghadiri salah satu diantara majelis ilmu. Kita harapkan semoga Allah Subhana Wata Alla, berkenan untuk melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat, sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap Allah swt,  amin ya rabal alamin.

            Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan baginda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengikutnya hingga hari kemudian.

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah Subhana Wata Alla.
Hari ini tanggal 9 dulhijah para jamaah haji sedang menunaikan salah satu rukun haji yaitu wukuf (berdiam) di arafah atau padang arafah  karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berkata dalam salah satu penggalan hadist :  al-hajju ‘arafah ‘ artinya : Haji itu adalah Arafah (wukuf di Arafah) (HR Tirmizi), sedangkan bagi kita yang tidak berada di sana/ tidak melaksanakan ibadah haji pada hari itu  dianjurkan untuk melakukan puasa yang biasanya di sebut puasa arafah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi umat muslim yang tidak pergi haji, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Rasulullah  tentang puasa Arafah:

“ Dari Abu Qatadah Al-Anshariy (ia berkata),” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah di tanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka dia menjawab, “ Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” (HR. Muslim no.1162 dalam hadits yang panjang)          ”

Semoga para jamaah haji yang sedang melakukan wakuf di arafah saat ini menjadi haji yang  mabrur dan bermafaat sekembalinya ke tempat tinggalnya masing-masing. Dan biasanya kalau kembali lagi tanah air, biasanya bergelar haji.

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah
Bagaimana sejarahnya kenapa setelah jammah haji itu pulang ke tanah air kemudian bergelar haji, sedangkan panegran diponegoro, imam bonjol, fatahelleh (sunan gunung jati) atau para wali itu meskipun orang indonesia  juda dan sudah berhaji tetapi tidak bergelar haji.

Ini dilatar belakangi oleh pemerintah Hinda Belanda yang menjalankan politik Islam, yaitu sebuah kebijakan dalam mengelola masalah-masalah Islam di Nusantara pada masa itu. Untuk mengawasi orang-orang yang melakukan ibadah haji, Belanda melakukan karantina haji dengan alasan menjaga kesehatan. Sejak tahun 1911-1933 Pulau Onrust dan Pulau Cipir (dulu namanya Pulau Khayangan) menjadi tempat penginapan sementara, bagi calon jemaah haji sebelum mereka bertolak ke Mekah dengan menggunakan kapal uap. Di pulau yang lengkap dengan fasilitas asrama dan rumah sakit ini mereka dikarantina selama tiga bulan, perjalanan pergi-pulang selama dua bulan, di Mekah selama tiga bulan, dan akan dikarantina lagi tiga bulan di Pulau Onrust sekembalinya dari Mekah. Jadi dulu perjalanan ibadah haji itu selama minimal 8 bulan.

Selain dikarantina para jamaah yang telah menjalankan ibadah Haji diberi gelar (kehormatan) Haji setelah selesai masa karantina. Padahal ini merupakan salah satu strategi politik dari Belanda. Karena , Pada masa itu sedang berkembang paham Pan-Islamisme di Timur Tengah dan  semakin banyak terjadi gerakan-gerakan pemberontakan di Indonesia yang pada umumnya dipimpin oleh para ulama.

Oleh pemerintah Belanda, mereka yang telah diberikan gelar haji di depan nama mereka ini  dibuat bangga dengan gelar tersebut. Padahal gelar Haji yang diberikan oleh pemerintah Belanda merupakan salah satu cara untuk mempermudah Belanda dalam melakukan proses pelacakan bagi jamaah yang memiliki kemungkinan untuk terlibat dalam gerakan pemberontakan terhadap pemerintah. Gelar ini menjadi semacam cap yang memudahkan pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi mereka yang dipulangkan ke kampung halaman. Misalnya di daerah A ada 3 haji, di daerah B ada 5 haji, dst. Jika terjadi pemberontakan Belanda mudah untuk menangkap orang-orang tersebut.

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah
Seperti kita Ketahui bersama bahwa ibadah Haji adalah rukun Islam yang kelima. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim yang mampu. Namun untuk saat ini saya kira tidak hanya mampu saja namun juga harus sabar, betapa tidak daftar waiting list jemaah haji di jember sudah mencapai 18 tahun, sehingga bagi yang mendaftar sekarang baru 18 tahun kemudian bisa pergi ke mekah untuk menunaikan ibadah haji, bisa jadi kalau ada suami istri mendaftar hsji bareng-bareng, belum tentu 18 tahun kemudian bisa pergi ke mekkah (pergi haji) bareng-bareng, bisa juga pergi sendiri, karena istri atau suaminya sdauh meninggal atau juga bisa pergi sendiri-sendiri karena 18 tahun kemudian suami-istri ini sudah bukan berstatus suami istri lagi. Artinya sudah bercerai.

Kemudian bagaimana halnya bagi orang yang pingin barhaji tapi tidak bisa atau belum mampu menunaikan ibadah haji?

Jamaah Shalat  Shubuh yang dirahmati Allah
Kita harus menyakini bahwa Allah itu memiliki aifat maha adil  seperti dalam quran surat Al-Maa’idah ayat 8:
http://c00022506.cdn1.cloudfiles.rackspacecloud.com/

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Allah-lah yang paling adil di antara yang adil. Neraca keadilan-Nya melingkupi keseluruhan alam semesta. Dia akan menegakkan keadilan di antara para hamba-Nya, di dunia dan di akhirat.

Karena Allah itu maha adil maka Allah tentu menyediakan sarana atau amalan yang kalau kita amalalkan maka amalan itu pahalanya setara dengan haji atau umroh

Berikuta ini bebarapa hadis yang menyebutkan amalan yang pahalanya setara dengan pahala haji dan umrah.

1. “Sekelompok orang-orang fakir miskin datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua kedudukan yang tinggi serta kebahagiaan yang abadi dengan harta memreka. Mereka shalat dan berpuasa sebagaimana yang kami lakukan. Akan tetapi mereka mempunyai harta untuk menunaikan haji; umrah dan bersedekah.”  Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Sukakah kalian saya ajarkan sesuatu yang dapat mengejar orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, dan tidak ada yang lebih utama dari kalian, kecuali mereka melakukan seperti yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Baiklah ya Rasulullah.” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Setiap selesai sholat bacalah olehmu Tasbih (Subhanallah); Tahmid (Alhamdulillah) dan Takbir (Allahu Akbar) masing-masing sebanyak 33 kali.” (Shahih; HR Bukhari).

2.  “Barang siapa shalat Shubuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” (Shahih; Shahih Al-Jami’ hadits no. 6346).

3.  “Barang siapa berjalan untuk shalat wajib berjamaah maka itu pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dan ihram. Barang siapa berjalan untuk shalat sunnah maka itu seperti pahala umrah.” (Hasan; Shahih Al-Jami’ hadits no. 6556).

4. “Barang siapa berjalan untuk shalat wajib dalam keadaan sudah suci (berwudhu di rumah), maka ia seperti mendapatkan pahala orang yang berhaji dan ihram….” (Shahih; HR Ahmad).

5.    “Shalat di masjid Quba’ itu seperti umrah.” (Shahih; Shahih Al-Jami’ hadits no. 3872).

6.    “Siapa yang bersuci di rumahnya kemudian datang ke masjid Quba’ dan shalat di dalamnya maka ia mendapatkan pahala seperti pahala umrah.” (Shahih; Shahih At-Targhib, 1181).

7.    “Umrah pada bulan Ramadhan itu bagaikan haji bersamaku (Nabi saw).” (Shahih; Shahih Al-Jami’ hadits no. 4098).

8.    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada seorang wanita Anshar, “Apa yang menghalangimu untuk ikut berhaji bersama kami?” Ia menjawab, “Kami tidak memiliki kendaraan kecuali dua ekor unta yang dipakai untuk mengairi tanaman. Bapak dan anaknya berangkat haji dengan satu ekor unta dan meninggalkan satu ekor lagi untuk kami yang digunakan untuk mengairi tanaman.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila datang Ramadhan, berumrahlah. Karena sesungguhnya umrah di dalamnya menyamai ibadah haji.” (Shahih; Shahih At-Targhib, 1117).

9.    “Siapa yang menyiapkan bekal untuk orang yang akan berjihad, ibadah haji, mencukupi keluarga yang ditinggalkan atau memberi makan orang yang buka puasa maka ia mendapatkan pahala seperti pahala mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (Shahih; Shahih At-Targhib, 1078).

10.    Siapa yang pergi ke masjid—dan tidak ada yang diinginkan selain belajar tentang kebaikan atau mengajarkannya—maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji yang sempurna.” (Hasan Shahih; Shahih At-Targhib, 86).


Demikian sedikit yang dapat kami sampaikan.  Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa takut kepada-Nya, sehingga dengan itu kita menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahiwabarokatuh

Bagaimana Nabi Berdoa

assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
innalhamdalillaah, nahmaduhuu
wa nasta'iinuhuu wa nastaghfiruhu
wa na'uudzubillaahi min syuruuri 'anfusinaa
wa min syayyi-aati a'maalinaa
man yahdillaahu falaa mudhillalahu
wa man yudhlilhu falaa haadiyalahu
asyhadu anlaa ilaaha illallah  wahdahu laa syariikalaahu wa asyhadu annaa muhammadan 'abduhuu wa rasuuluhuu laa nabiyya ba'dahu
Jamaah Shalat  Isya’ dan taraweh  yang dirahmati Allah Subhana Wata Alla 
Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadiratan allah swt, pada kesempatan yang berbahagia ini kita kembali bisa menjalankan shalat Isya’ dan taraweh. Kita berharap semoga Allah Subhana Wata Alla, berkenan untuk menerima amalan kita ini nanti di akherat. amin ya rabal alamin.
                Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan baginda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengikutnya hingga hari kemudian.
Jamaah Shalat  Isya’ dan taraweh  yang dirahmati Allah Subhana Wata Alla ; Dalam Quran surah Al Ahzab ayat 21 Allah berfirman :

Description: 33:21
Artinya”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS Al Ahzab:21).
Untuk dapat meneladani akhlak dan sifat Rasulullah SAW harus banyak belajar dari Al-Qur’an dan Al Hadits. Karena  setiap ayat dalam al-Quran selalu Beliau menjalankannya terlebih dahulu sebelum menyampaikannya kepada umatnya. Salah  satu contoh saja yaitu tentang bagaimana nabi berhubungan dengan Allah.
Dengan doa Nabi (saw) akan berhubungan  dengan Allah azzawajal,
Dengan Shalat nabi kita (saw) akan menemukan kedamaian
Kapan terakhir kali kita  menemukan kedamaian dalam Allah kita?
Kapan waktu  kita mengeluh kepada Alllah bukannya mengeluh kepada orang lain.
Sesungguhnya keluhan dari masalah saya dan kekhawatiran saya hanya untuk Allah Azza Wajalla
Marilah kita memperhatikan bagaimanakah Rosullulah  berhubungan dengan Allah.  Marilah kita  memcontoh bagaimana Rosul allah (saw) yang terhubung dengan Allah, Bagimana Rosullulah berkeluh kesah, bagaimana rosullulah menemukan kedemaian
Dalam hadits yang shahih  di dalam shabih Bukhari dan muslim.  Abdullah bin Syaqiq radiallahu anhu ta'ala Dia mengatakan bahwa saya (Abdullah bin Syaqiq) masuk ke dalam kamar Rosulullah (saw)  dan pada saat itu rosullulah sedang berdoa, dan saya (Abdullah bin Syaqiq) melihat bahwa jenggotnya menetes air  karena basah, seakan seember air telah dituangkan di kepalanya, seolah-olah sember air telah dituangkan di atas kepalanya, dan janggutnya basah kuyup karena menangis dari rasa takut allah, dapatkah kita bayangkan? Nabi kita (SAW) menangis begitu banyak karena  rasa takut terhadap Allah, dapatkah kita bayangkan? Bandingkan dengan kita kapan kita terakhir kalinya menanis dalam shlalat tahajut ditengah keheningan malam.
Muhammad Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba yang banyak sekali bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya dan sering bertaubat dan beristigfâr. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sampai kedua kaki beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bengkak, sehingga ada yang mengatakan :
“Wahai Rasûlullâh! Allâh telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lewat dan yang datang?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ringan menjawab, “Apakah aku tidak mau menjadi hamba yang banyak (pandai) bersyukur?!” (abdan syakura)
Meski beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat pandai bersyukur kepada atas segala limpahan nikmat-Nya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap saja banyak beristighfâr, memohon ampun kepada Allâh Azza wa Jalla . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Demi Allâh! Sesungguhnya aku beristighfar, memohon ampun kepada Allâh Azza wa Jalla lebih dari 70 kali dalam sehari.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat takut terhadap murka Allâh Azza wa Jalla .
Dalam hadist shahih dalam hadist riwayat muslim dari Hudzaifah radi allahu anhu berkata : saya shalat dengan Rosullullah di tengah malam, di rakaat pertama Rosullullah membacakan surah al bakarah, surat ali imron, surat Annissa dan Rosullullah berhenti di setiap ayat allah yang menyebutkan/ menggambarkan surga / jannah, dan Rosullullah berdoa memohon kepada Allah : Ya Allah masukkan aku masuk ke dalan surga dan Rosullullah berhenti di setiap ayat Allah  yang menyebut / menggambarkan neraka Jahanam dan Rosullullah berdoa: Ya Allah selamatkan aku  dari  neraka Jahanam
Rasuullulah , shalat di tengah malam, lamanya  6 sampai 7 jam,  pada malam hari dan berjihad fisabillah (berperang) di pagi dan siang harinya,  kadang tidak ada makanan untuk di makan, tidak ada air untuk diminum, sehingga terkadang Rosullullah puasa selama 3 sampai 4 hari pada satu minggunya, seperti itu perjuangan nabi kita.
Didalam hadist shahih lainnya HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah:  aisyah  mengatakan saya bangun di tengah malam dan saya mencari nabi ke sekitarnya  dan kahirnya tangan saya menyentuh kaki rosullulah  yang sedang berdoa dan rasullolah mengatakan dalam sujud nya doa berikut, apa yang doa yang ia katakan? Allahumma inni a’udzu bi ridhooka min sakhotik Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, dan dengan kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu , wa a’udzu bika minka, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu, laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik,  Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik, Engkau adalah sebagaimana Engkau sendiri memuji diriMU
Begitulah cara nabi memuji Allah, dan begitulah cara hati rosullulah keluar untuk Allah, dan begitulah   cara rosullulah melakukannya murni tanpa memberitahu istrinya,  tulus hanya  antara rosullulah dan Allah azzawajalla  saja.
Pantaslah kalau Rosulullah menjadi seorang hamba yang paling dicintai Allah Azza wajalla, kemudian bagaimana dengan kita, apakah kita juga termasuk orang yang dicintai Allah, kadang ada juga dari kita itu yang amalannya ya mungkin baru sedikit  aja, sudah merasa paling dicntai Allah sehingga sudah berani mengejek amalan orang lain, kadang kita dengar orang yang berkata atau dalam bhs jawanya ngerasani amalan orang.. iku lho pak a... gayane sholat e neng  masjid, ning ra tau tahlilan ra tau yasinan, rasakno mengko nek mati nglundung dewe neng kuburan, mungkin kaya di flim horor cina dulu, kalau ada orang mati terus dahinya dikasih kertas,  terus mayat tersebut bisa jakan dan digiring ke kuburan sama suhunya.
Bagaimana caranya kita tahu kalau kita ini sudah dicintai Allah?
Untuk mengetahui apakah kita itu dicintai Allah kita bisa meniru tahapan-tahapan yang dilakukan oleh Syaikh ‘Ali al-Thanthawi radiaalluhu anhu, karena kecintaan Allah Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya datang untuk beberapa sebab dan sifat yang Ia (Allah) menyebutnya dalam kitab-Nya yang Mulia (Al Quran). Tahap pertama : Allah mencintai “Al-muttaqien”; orang-orang yang bertakwa. Apakah kita sudah termasuk orang yang bertaqwa? Yaitu menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Nya, Kalau belum mungkin kita termasuk dalam tahap yang kedua yaitu : Allah  mencintai “Al-Shaabirien”, orang-orang yang bersabar.  Apakah kita sudah termasuk orang-orang yang bersabar? Sabar dalam mendalam menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Nya, Kalau belum, mungkin kata bisa masuk orang yang berada dalam tahap ketiga yaitu : Allah mencintai “Al-Mujaahidien”, orang-orang yang berjihad / bersungguh - sungguh. Apakah kita sudah termasuk ini yaitu sudah berjihad atau bersungguh-sungguh dalam mendalam menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Nya,  kalau belum mungkin kita termasuk dalam tahap keempat yaitu : Allah itu mencintai “Al-Muhsinien”,  orang-orang yang berbuat baik/orang-orang yang suka berinfak.
Nah marilah kita mencoba memeriksa amalan-amalan kita, ternyata kalau kebanyakan terwarnai dengan kefuturan, kelalaian, celah/ cacat dan dosa-dosa kalau, maka marilah kita bertaubat karena Allah Ta’ala berfirman:  Innallaaha yuhibbu al-tawwabiina , Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. Karena sifat inilah yang seharusnya ada pada diri kita...
Lha kalau kita tidak termasuk, muthaqin, shaabirien, mujahid dan kita juga  tidak mau bertaubat akan kefuturan, kelalaian, celah/ cacat dan dosa-dosa kita, maka celakalah kita,  berarti kita bukan termasuk orang-orang yang dicintai Allah, ya mungkin inilah orang yang pantas disebut orang sing nek mati glundung dewe neng kuburan.

Demikian sedikit yang dapat kami sampaikan.  Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa takut kepada-Nya, sehingga dengan itu kita menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahiwabarokatuh